Empat titik di Kabupaten Simalungun terendam banjir setelah hujan tak henti-henti mengguyur wilayah tersebut. Warga mulai terdampak, aktivitas terganggu, dan petugas turun melakukan penanganan cepat.
Hujan tanpa jeda yang mengguyur Kabupaten Simalungun sepanjang hari memicu banjir di empat titik berbeda, membuat aktivitas warga terganggu dan memaksa sebagian dari mereka mengungsi sementara. Intensitas hujan yang tinggi, ditambah kondisi drainase yang belum optimal, membuat air meluap ke pemukiman dan jalan raya. Beberapa wilayah yang sebelumnya jarang terendam kini turut merasakan dampak banjir meluas yang terjadi secara tiba-slot.
Empat titik yang dilaporkan terendam meliputi daerah pemukiman padat penduduk, lahan pertanian, serta akses jalan penghubung antar desa. Tinggi genangan bervariasi, mulai dari semata kaki hingga selutut orang dewasa. Warga yang terdampak di wilayah yang rendah mengaku harus memindahkan barang lebih awal karena air mulai masuk rumah ketika hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda berhenti.
Di kawasan permukiman, banjir mulai masuk melalui halaman dan teras rumah. Banyak warga tidak sempat mengantisipasi karena sebelumnya kondisi cuaca tampak normal. Namun ketika hujan semakin deras menjelang malam, kenaikan air terjadi dengan cepat. Sebagian warga memutuskan mengungsi ke rumah kerabat atau bangunan tinggi di sekitar lokasi untuk menghindari risiko air semakin naik. Peralatan elektronik, dokumen penting, serta barang-barang yang mudah rusak menjadi prioritas untuk diselamatkan.
Sementara itu, sektor pertanian juga mengalami dampak cukup besar. Lahan sawah dan kebun yang terletak dekat aliran irigasi tergenang air sehingga berpotensi menyebabkan kerusakan tanaman. Petani khawatir banjir berlarut-larut dapat memicu gagal panen karena tanaman muda sangat sensitif terhadap kondisi air yang terlalu tinggi. Para petani berharap air segera surut agar lahan tidak rusak lebih parah dan aktivitas bercocok tanam dapat kembali berjalan normal.
Dari segi transportasi, beberapa ruas jalan utama di Simalungun menjadi sulit dilewati kendaraan. Genangan air yang cukup dalam membuat sepeda motor rentan mogok dan mobil harus melambat untuk menghindari masuknya air ke mesin. Kondisi ini menimbulkan kemacetan panjang di beberapa titik, terutama di jam sibuk pagi hari ketika warga hendak beraktivitas. Petugas kepolisian bersama relawan turun ke lapangan untuk membantu mengatur arus lalu lintas dan memastikan warga tetap dapat melewati jalur alternatif.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simalungun segera melakukan monitoring setelah menerima laporan banjir di berbagai titik. Mereka mendirikan posko cepat tanggap dan menyiapkan perahu karet untuk melakukan evakuasi jika diperlukan. Petugas juga memberikan bantuan logistik bagi warga yang memilih mengungsi, seperti makanan siap saji, selimut, dan air minum. Tenaga medis di lapangan turut memberikan pengecekan kesehatan kepada warga, terutama lansia dan anak-anak yang rentan terhadap penyakit akibat air kotor.
Kondisi banjir ini kembali memperlihatkan persoalan klasik yang dihadapi banyak wilayah di Sumatera Utara, yaitu sistem drainase yang tidak mampu menampung debit air besar ketika hujan turun secara terus-menerus. Beberapa saluran air dipenuhi sedimen dan sampah yang menyumbat aliran. Warga setempat mengaku sering melakukan gotong royong untuk membersihkan parit, tetapi upaya tersebut tidak cukup mengatasi masalah banjir ketika hujan ekstrem terjadi.
Selain itu, perubahan tata ruang dan alih fungsi lahan juga ikut memperburuk situasi. Banyak area resapan air berkurang karena pembangunan yang semakin padat, sehingga air hujan tidak memiliki ruang yang memadai untuk meresap ke tanah. Hal ini membuat risiko banjir meningkat meskipun hujan tidak terlalu ekstrem. Warga berharap pemerintah daerah mengambil langkah jangka panjang untuk memperbaiki pengelolaan lingkungan, termasuk memperdalam parit, memperbaiki tanggul sungai, dan menambah kawasan hijau.
Hingga laporan terakhir, beberapa titik banjir mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan air, namun wilayah tertentu yang berada di dataran rendah masih terendam. Cuaca yang masih berpotensi hujan membuat warga tetap siaga terhadap kemungkinan banjir susulan. BPBD terus berkoordinasi dengan aparat desa dan kecamatan untuk memastikan informasi terkini sampai ke masyarakat dan meminimalkan risiko yang mungkin muncul.
Meski kondisi cukup sulit, solidaritas warga Simalungun terlihat sangat kuat. Banyak warga yang membantu satu sama lain memindahkan barang, menyediakan makanan, atau menjaga anak-anak selama proses evakuasi. Kehadiran relawan juga mempercepat penanganan di lapangan sehingga warga merasa lebih aman dan diperhatikan.
Banjir di empat titik ini menjadi pengingat bahwa bencana dapat terjadi kapan saja, terutama ketika curah hujan tinggi berlangsung tanpa henti. Dengan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah, diharapkan langkah-langkah penanganan dan pencegahan ke depan bisa lebih optimal, sehingga bencana serupa dapat diminimalkan dampaknya bagi warga Simalungun.
